Berita Terbaru
SMS & YM Centre

0878 2314 6888 (XL)
0878 2314 6999 (XL)


0857 2119 7777 (Im3)
0857 9307 3888 (Im3)
0857 9307 3999 (Im3)

0813 2194 5555 (simPATI)
0813 2013 6666 (simPATI)
0813 9441 9999 (simPATI)

0899 6866 222 (Three)
0899 6866 333 (Three)
0899 6866 444 (Three)


: center1_elinda

: center2_elinda

: center3_elinda

: center4_elinda

Support eLinda

Apabila Anda kurang berkenan dengan pelayanan CS kami, mohon sms ke:

081802020203


: cs1_elinda

: cs2_elinda

: cs3_elinda

: cs4_elinda

: cs5_elinda

: cs6_elinda

: cs7_elinda.

: cs8_elinda.

: cs9_elinda.


Via Telp (Tidak SMS):

(022) 781 4609 (Telkom)

(022) 91 999 444 (Esia)

Info Deposit

A/N: Linda Trisnawati


Bank Mandiri

BCA: 2330 034567


Bank Mandiri

Mandiri: 131-00888 09993


Konfirmasi Deposit:

022 9119 9933 (Esia)

022 7655 3888 (Flexi)

Buka 07:00 - 21:00 WIB

Rekening Keanggotaan

A/N: Sunarto


Bank BCA

BCA: 2830 555555

Artikel
Hubungi kami

Gedung Graha Dwimas
1st floor - 2nd floor Jl. Raya Cileunyi 400-402
Bandung, Jawa Barat, Indonesia - 40393
Tlp: (022) 781 4609
Buka setiap hari
pukul 07:00 - 17:30 WIB

Dwimas.Net
Jl. Raya Jatinangor No 106 Dusun Caringin, Desa Sayang Kec. Jatinangor RT 02, RW 11
Sumedang, Jawa Barat, Indonesia - 45363
Tlp: 022 779 2727
Buka setiap hari
pukul 07:00 - 24:00 WIB

Nazwa Cell
Kp. Sukajaya RT05/03 Dawuan Kidul
Subang, Jawa Barat, Indonesia - 41251
Tlp: 0852 9546 9444
Buka setiap hari
pukul 07:00 - 17:30 WIB


Owner:

: Owner

 

Crew:

: Marketing

: Billing

: Purchasing

: Webmaster

Informasi Anda
  • IP: 38.107.179.220
Jumlah Pengunjung
Pengunjung sejak Desember 2010 -- Rincian

Archive for the ‘Renungan’ Category

Surat Untuk Firman

Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka? Read the rest of this entry »

Sahabat Kecil

Sobat…Sebuah cerita yang sangat mengharukan.. betapa Kasih Sayang dari seorang sahabat kecil ditunjukkan dengan sebuah empati tulus dan pengorbanan..

Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran, “Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan.”

Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu-satunya, namanya Sindu, tampak ketakutan air matanya mengalir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India = curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect”.Aku mengambil mangkok dan berkata:
“Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak-teriak sama ayah.”

Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata:
“Boleh ayah akan aku makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok, tapi semuanya akan aku habiskan, tapi aku akan minta…” agak ragu-ragu sejenak… “….akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaanku? ”

Aku menjawab: “Oh, pasti sayang”.

Sindu: “Betul ayah?”

“Yah pasti..” sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan. Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, “janji” kata istriku.

Aku sedikit khawatir dan berkata:
“Sindu, jangan minta komputer atau barang-barang lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang.”

Sindu: “Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang-barang mahal kok.”

Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya..

Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya.

Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin pada hari Minggu!

Istriku spontan berkata: “Permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin!”

Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV. Dan program-program TV itu sudah merusak kebudayaan kita.

Aku coba membujuk: “Sindu, kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak.”

Tapi Sindu tetap dengan pilihannya: – “Tidak ada ‘yah, tak ada keinginan lain.”

Aku coba memohon kepada Sindu:
- “Tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami!”

Sindu, dengan menangis, berkata:

- “Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya aku menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan aku. Kenapa ayah sekarang mau menarik perkataan Ayah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya raja real memberikan tahta, kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.”

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku: – “Janji kita harus ditepati..”

Secara serentak istri dan ibuku berkata: – “Apakah aku sudah gila ?”

Aku: “Tidak, kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sindu permintaanmu akan kami penuhi.”

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus.

Hari Senin aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki keluar dari mobil sambil berteriak: “Sindu, tolong tunggu saya.”
Yang mengejutkanku ternyata kepala anak laki-laki itu botak, aku berpikir mungkin “botak” model jaman sekarang.

Tanpa memperkenalkan dirinya, seorang wanita keluar dari mobil dan berkata:

“Anak anda, Sindu, benar-benar hebat. Anak laki-laki yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish, adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia.”

Wanita itu berhenti berkata-kata, sejenak aku melihat air matanya mulai meleleh dipipinya:

“Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena chemotherapy kepalanya menjadi botak, jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut diejek oleh teman-teman sekelasnya. Nah, minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya, saya betul-betul tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan, mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.”

Aku berdiri terpaku dan tidak terasa air mataku meleleh. Malaikat kecilku, tolong ajarkanku tentang arti sebuah kasih…..

Sumber: Email dari Teman
[caption id="" align="aligncenter" width="620" caption="Pemasangan BTS bertenaga surya. "][/caption] JAKARTA, KOMPAS.com - Tidak dipungkiri, pesatnya pertumbuhan pelanggan telekomunikasi seluler membutuhkan infrastruktur yang sangat besar. Salah satunya pembangunan menara seluler yang menjamur di mana-mana. Beberapa pemerintah daerah yang mengeluhkan hadirnya menara-menara seluler bahkan sempat merobohkan sejumlah menara BTS yang dianggap tak berizin. Menara BTS memang seringkali dianggap merusak pemandangan. Ericsson bahkan sempat menawarkan BTS 'berbaju' sehingga bisa diatur dengan desain yang menyatu sekitarnya. Di daerah tertentu, seperti Bali, misalnya, yang peraturan daerahnya membatasi tinggi bangunan, menara BTS juga sering terkena masalah. Hambatan-hambatan tersebut rupanya bukan tanpa solusi. BT tanpa menara, kenapa tidak? "Saat ini kami sedang menuju konsep BTS tanpa menara atau towerless," kata Direktur Utama Telkomsel, Sarwoto Atmosutarno saat pencanangan program "Telkomsel Paling Indonesia", Rabu (15/12/2010) di Jakarta. Ia mengatakan konsep tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk menghadirkan teknologi yang ramah lingkungan. Sarwoto mengatakan, 916 BTS yang dibangun Telkomsel saat ini sudah ramah lingkungan. Banyak di antara BTS tersebut yang menggunakan energi langsung dari panel surya. BTS di daerah terpencil seperti di Suwoh, Lampung, bahkan mendapat pasokan energi dari pembangkit listrik mikro hidro yang listriknya turut dinikmati masyarakat sekitar untuk penerangan. Menurut GM Corporate Communication Telkomsel Ricardo Indra, aspek lingkungan merupakan salah satu faset atau pilar layanan yang dikembangkan Telkomsel untuk pelanggan. Ia mengatakan, konsep BTS tanpa menara yang akan diterapkan akan dicoba pertama kali di Bali. Namun, bagaimana konsep tersebut, tunggu saja. Sumber: KompasTekno